Saturday, February 18, 2012

Stasiun Kenangan: At-Ta'awun (story about 3 Sahabat 'Idiot') - Last Part


Allahu akbar..! Allaaaaaahu akbar..!


Kriyip-kriyip kami terbangun karena suara seorang muazin yang lumayan sedang melantun adzan subuh. Kami pun terbangun sambil mengucek-ngucek mata dan sesekali menguap lebar seperti hippopotamus yang kepanasan di tepi Sungai Nil, hahaha..! Istirahat malam tadi lumayan cukup untuk mengembalikan energi yang menguap seharian. Meskipun hawa dingin merasuk tetapi dinginnya air keran harus tetap dibasuhkan ke wajah-wajah suntuk yang baru saja terbangun. Tak berlama-lama kami pun melanjutkan perjalanan selepas menunaikan shalat subuh. The real 'jalan-jalan' pun dimulai lagi dari masjid tepi jalan ini. Kemon! Bertiga kami menyeret kaki-kaki yang semakin kuat mengukur jalanan menuju Puncak, hehe..


Kruukkk..! Kruuuukkk.. terdengar dari balik t-shirt yang kami pakai sejak kemarin, hehe.. Rontaan lambung (lebay, hehe..) di pagi hari menjadi tanda kalau harus ada sesuatu yang dikorbankan untuk meredakan rontaan ini a.k.a S-A-R-A-P-A-N. Umm.. masih terlalu pagi rupanya, ibu-ibu penjual nasi uduk pun belum kelihatan batang hidung mereka. Ternyata semalam kami sudah mengisi tas-tas kami dengan makanan mudah saji yang dibeli dari minimarket yang terlewati sebelum terlelap di masjid. Roti tawar dan susu coklat pun menjadi menu siap saji kami di pagi buta yang dingin. Kami bertiga bersantap (bahasa baku, gaya lo tong! :D) di pelataran luas tempat bus-bus AKAP mangkal, yang letaknya gak jauh dari mesjid tadi malam. Sesekali jepretan foto merekam wajah-wajah kusut belum mandi. Mr. Optimal pun sibuk dengan kamera saku nya jepret sana jepret sini. Terlihat di kejauhan banyak remaja-remaja tanggung agak alay yang juga jeprat-jepret dengan kamera hape mereka.
Lagi asyik foto2 di Kebun Teh, Puncak
Kebun Teh, Puncak
Puas dengan menu siap saji yang lumayan mengganjal perut, kami pun melanjutkan lagi 'jalan-jalan' kami menuju Puncak. Obrolan dan ceng-cengan mewarnai sepanjang jalan kami menuju Puncak. Ini adalah 'jalan-jalan' tergila dan terberat yang pernah kami lakukan dibandingkan 'jalan-jalan' yang biasa kami lakukan dulu yaitu keliling-keliling komplek tengah malam, hahaha...! Seperti biasa, tatapan-tatapan dari orang-orang sepanjang jalan terlempar ke tiga sosok yang berjalan (kami). Entah itu tatapan takjub atawa tatapan bingung karena ada 3 orang kramot (2 normal dan 1 berkendara roda empat) menelusuri jalan menuju Puncak yang naik-turun. Buat kami itu gak jadi masalah, yang penting adalah terus jalan dan jalan, hehe.. Kami sih positip tingking aja bahwa mereka itu takjub ke kami, hahaha..! (emang iya! :D)


Terus berjalan dan terus berjalan itulah program yang terus saja looping di benak kami. Program yang membuat kaki-kaki kami (Aku dan Anto) semakin kuat tapi menggunungkan penat sementara bokong si Apit semakin tepos kepanasan, hahaha...! Akhirnya, jalan menuju Puncak pun sepertinya gak jauh lagi karena di depan sudah terlihat Pasar Cisarua. Tadinya sih mau inisiatif nyarter angkot ke Puncak karena produk sampingan jalan-jalan yang sudah menggunung mengirimkan sinyal ke lobus frontal otak kami kalo naik angkot itu lebih enak. Tapi setelah tawar-menawar ternyata dikasih harga yang mahal jadinya batal deh naik angkot carteran-nya. Yowis, lanjuuuutttt! Kami pun lanjut 'jalan-jalan' lagi -__-"


Akhirnya sampe juga di botol kecap raksasa. Kanan-kiri cuma ada hamparan pohon teh menghijau luar banget. Kami pun stop di sana dan membuka perbekalan lagi. Kali ini roti tawar dan susu coklat plus biskuit jadi menu pengganjal sebelum siang. Kamera saku dan tripod pun berdiri tegak dihadapan kami siap merekam gambar waktu itu. Cekrekkk.. Okeee.. Kamera selesai merekam. Habis makan lanjut lagi, dikit lagi sampe Masjid At Ta'awun, Puncak. Tenaga pun dikerahkan oleh ahli dorong (Anto dan Aku), kali ini medannya cukup berat karena nanjak terus, tapi destination udah di depan menunggu gak lama lagi. Apapun itu tidak ada kata kembali, Vini Vidi Vici (halahhh, gaya!) :D


Bunciiiissss.. dan jepretan kamera merekam momen kami berada di kebun teh gak jauh dari Gunung Mas. Terlihat hamparan luas kebun teh menurun hijau ke bawah sana. Udara sejuk yang luar biasa nikmat membuat penat gak terasa. Tiba-tiba sebuah jempul teracung kepada kami dari seorang pengendara motor yang melewati kami. Entah untuk apa dia mengacungkan jempol. Mungkin karena terheran dan takjub akan perjalanan kami, perjalanan yang tidak biasa bagi kebanyakan orang. Warung sate kelinci tapi jalan pun menjadi tempat istirahat kami dan juga karena tergoda pingin icip-icip seperti apa sih rasa sate kelinci itu, hehe.. Gak lupa foto-foto, teuteuuuuppp :D Soalnya warung sate kelinci nya di tepi jalan dan agak menjorok ke ngarai di samping jalan jadi view-nya bagus banget. Abis makan (lumayan sate kelincinya wenakkk), kenyang, leyeh-leyeh dulu nikmatin pemandangan yang bagus sambil jepret-jepret. Okeh, 'jalan-jalan' lanjut lagiiii :)

Lagi icip-icip Sate Kelinci di Puncak, mak nyusss..!
And finally, our journey ends. Eng ing eeeeengggg.. Masjid At-Ta'awun pun dihadapan kami. But, ada tantangan lagi untuk bisa masuk ke dalam masjid karena ada banyak anak tangga menuju ke atas karena masjidnya di atas -__-" Gak papa, satu-satunya jalan adalah bekerja sama, hehe.. Karena gak mau ngerepotin orang2 sekitar yang sedang terkesima dengan pemandangan gak biasa di depan mereka (2 orang normal dan 1 orang ber-wheelchair). Akhirnya bagi2 tugas, Anto yang angkat wheelchair-nya Big Boss dan aku yang bopong dia. Huppp, bak binaragawan kami pun beraksi menaiki anak tangga yang lumayan banyak untuk bisa sampai ke atas dan masuk ke mulut Masjid. Aaahhh, finally arrived di atas dan view-nya subhanallah bagus banget. Masjid ini jadi saksi perjalanan kami dan sesuai namanya yang berarti saling menolong (ta'awun) bahwa persahabatan itu ada karena Allah dan juga ada untuk saling tolong-menolong.


Destinasi sudah tercapai dan waktu zuhur masih sekitar 3 jam lagi so kami pun leyeh2 istirahat di dalam masjid yang sejuk karena hawa Puncak yang menyejukkan. Dinginnya air di kucuran keran tempat berwudhu meresap ke balik kulit-kulit wajah dan tangan kami. Tergoda dengan kesegaran Aku pun memutuskan untuk numpang mandi, hehe.. Lumayan karena dari tadi malam belum mandi dan sudah bawa perlengkapan mandi juga. Segeeerrrrr...! Alhamdulillah. Sambil mengunggu shalat zuhur, leyeh-leyeh dulu di dalam masjid. Aaahhh, mantap! Shalat zuhur sudah ditunaikan dan saatnya merencanakan perjalanan pulang. Tapi sepertinya tidak ada yang direncanakan karena perjalanan pulang akan sama dengan perjalanan kemari yakni 'jalan-jalan', hehe..
Kepanasan di At-Ta'awun padahal di Puncak :D
And the long way to home pun dimulai dari Masjid ini. Sebuah stasiun kenangan yang akan menjadi bahan tutur kami di kemudian hari kepada anak cucu kami. Bahwa persahabatan itu means tolong-menolong. Kami pun beranjak dan mulai menyusuri jalanan menurun dari Puncak. Tadinya sih berencana untuk naik angkot ke Pasar Cisarua tapi ternyata naik angkot pun percuma karena ekor kemacetan udah terlihat beberapa meter setelah kami meninggalkan Masjid. Yowis, keep moving then. C-mon! Kami pun terus jalan. Sepanjang jalan yang terlihat cuma deraten mobil di sebelah kanan dan deretan kios yang menjajakan ubi cilembu, pisang tanduk, alpukat, wortel, talas bogor, dll. Waktu pun makin sore dan kami mendaratkan telapak kaki kami yang sepertinya bertambah lebar di lantai Masjid berarsitektur modern, kalo gak salah namanya Masjid Al-Masih. Alhamdulillah, bisa leyeh-leyeh sebentar.


Usai leyeh-leyeh di Masjid kami pun melanjutkan perjalanan pulang dan masih mecet juga. Ternyata invasi Plat B betul-betul parah kalo weekend, hehe.. Gak papa, klo perginya bisa pulangnya juga harus bisa (bisa-bisa gempor, hahaha!!!) Eh ternyata sampai ditempat deket pelataran bus-bus AKAP tempat sarapan tadi pagi dan kemacetan pun kelihatannya udah mulai berangsur menghilang a.k.a arus lalu lintas udah lancar. Yowis, rencana naik angkot pun direalisasikan. Kami akhirnya naik angkot ke arah Ciawi. Sampai di Ciawi eh udah waktu untuk shalat ashar, oke cari masjid terdekat sekalian istirahat sebentar. Usai shalat kami jalan lagi dan kali ini naik angkot lagi menuju Terminal Baranang Siang untuk naik bus ke Terminal Tanjung Priok. Yap, bus sudah dapet dan ready to go. Saatnya tidoooorrrr :D


And finally sampai juga di Terminal Tanjung Priok dan waktu udah magrib so kami putuskan untuk shalat magrib berjama'ah di Masjid Al-Husna gak jauh dari Terminal. Selesai shalat, leyeh-leyeh sebentar sebelum lanjut lagi melanjutkan perjalanan ke rumah. Sebelum pulang ada rencana dadakan untuk makan karena perut udah laper. Akhirnya Bro Apit rekomendasi makan Sate Padang yang terkenal di Pasar Permai deket Paul (Pasar Uler). Okeh! kita kemon, dan 'jalan-jalan' kami pun ditutup dengan seporsi Sate Padang yang maknyusss. Alhamdulillah, makan udah beres eh azan isya' berkumandan so lanjut shalat berjama'ah dan kebetulan deket tempat makan ada mushola. Sip, makan beres dan shalat sudah tertunaikan dan berjama'ah so selanjutnyaaa Home Sweet Home. Romah Masbro Anto jadi tempat tujuan akhir untuk melepas penat yang sudah menggunung. Kami pun naik angkot menuju Semper dan memutuskan untuk menginap di rumah Masbro Anto.

Sate Padang di Koja Permai, mantab jayaaa!
Alhamdulillah, home sweet home. Saatnya beristirahat. Perjalanan yang luar biasa (luar biasa cuapekkk, hahaha..!), perjalanan yang melelahkan tapi bermakna dan akan menjadi sebuah Stasiun Kenangan. Alright fellas this is it, a story from me. I am signing out :)

2 comments:

Cepy HR said...

wihh.. pak odi blogger juga nih? hehe, salam kenal ya pak di dunia maya :D

Unknown said...

hehe.. salam satu jari :)