Saturday, February 18, 2012

Stasiun Kenangan: At-Ta'awun (story about 3 Sahabat 'Idiot') - Last Part


Allahu akbar..! Allaaaaaahu akbar..!


Kriyip-kriyip kami terbangun karena suara seorang muazin yang lumayan sedang melantun adzan subuh. Kami pun terbangun sambil mengucek-ngucek mata dan sesekali menguap lebar seperti hippopotamus yang kepanasan di tepi Sungai Nil, hahaha..! Istirahat malam tadi lumayan cukup untuk mengembalikan energi yang menguap seharian. Meskipun hawa dingin merasuk tetapi dinginnya air keran harus tetap dibasuhkan ke wajah-wajah suntuk yang baru saja terbangun. Tak berlama-lama kami pun melanjutkan perjalanan selepas menunaikan shalat subuh. The real 'jalan-jalan' pun dimulai lagi dari masjid tepi jalan ini. Kemon! Bertiga kami menyeret kaki-kaki yang semakin kuat mengukur jalanan menuju Puncak, hehe..


Kruukkk..! Kruuuukkk.. terdengar dari balik t-shirt yang kami pakai sejak kemarin, hehe.. Rontaan lambung (lebay, hehe..) di pagi hari menjadi tanda kalau harus ada sesuatu yang dikorbankan untuk meredakan rontaan ini a.k.a S-A-R-A-P-A-N. Umm.. masih terlalu pagi rupanya, ibu-ibu penjual nasi uduk pun belum kelihatan batang hidung mereka. Ternyata semalam kami sudah mengisi tas-tas kami dengan makanan mudah saji yang dibeli dari minimarket yang terlewati sebelum terlelap di masjid. Roti tawar dan susu coklat pun menjadi menu siap saji kami di pagi buta yang dingin. Kami bertiga bersantap (bahasa baku, gaya lo tong! :D) di pelataran luas tempat bus-bus AKAP mangkal, yang letaknya gak jauh dari mesjid tadi malam. Sesekali jepretan foto merekam wajah-wajah kusut belum mandi. Mr. Optimal pun sibuk dengan kamera saku nya jepret sana jepret sini. Terlihat di kejauhan banyak remaja-remaja tanggung agak alay yang juga jeprat-jepret dengan kamera hape mereka.
Lagi asyik foto2 di Kebun Teh, Puncak
Kebun Teh, Puncak
Puas dengan menu siap saji yang lumayan mengganjal perut, kami pun melanjutkan lagi 'jalan-jalan' kami menuju Puncak. Obrolan dan ceng-cengan mewarnai sepanjang jalan kami menuju Puncak. Ini adalah 'jalan-jalan' tergila dan terberat yang pernah kami lakukan dibandingkan 'jalan-jalan' yang biasa kami lakukan dulu yaitu keliling-keliling komplek tengah malam, hahaha...! Seperti biasa, tatapan-tatapan dari orang-orang sepanjang jalan terlempar ke tiga sosok yang berjalan (kami). Entah itu tatapan takjub atawa tatapan bingung karena ada 3 orang kramot (2 normal dan 1 berkendara roda empat) menelusuri jalan menuju Puncak yang naik-turun. Buat kami itu gak jadi masalah, yang penting adalah terus jalan dan jalan, hehe.. Kami sih positip tingking aja bahwa mereka itu takjub ke kami, hahaha..! (emang iya! :D)


Terus berjalan dan terus berjalan itulah program yang terus saja looping di benak kami. Program yang membuat kaki-kaki kami (Aku dan Anto) semakin kuat tapi menggunungkan penat sementara bokong si Apit semakin tepos kepanasan, hahaha...! Akhirnya, jalan menuju Puncak pun sepertinya gak jauh lagi karena di depan sudah terlihat Pasar Cisarua. Tadinya sih mau inisiatif nyarter angkot ke Puncak karena produk sampingan jalan-jalan yang sudah menggunung mengirimkan sinyal ke lobus frontal otak kami kalo naik angkot itu lebih enak. Tapi setelah tawar-menawar ternyata dikasih harga yang mahal jadinya batal deh naik angkot carteran-nya. Yowis, lanjuuuutttt! Kami pun lanjut 'jalan-jalan' lagi -__-"


Akhirnya sampe juga di botol kecap raksasa. Kanan-kiri cuma ada hamparan pohon teh menghijau luar banget. Kami pun stop di sana dan membuka perbekalan lagi. Kali ini roti tawar dan susu coklat plus biskuit jadi menu pengganjal sebelum siang. Kamera saku dan tripod pun berdiri tegak dihadapan kami siap merekam gambar waktu itu. Cekrekkk.. Okeee.. Kamera selesai merekam. Habis makan lanjut lagi, dikit lagi sampe Masjid At Ta'awun, Puncak. Tenaga pun dikerahkan oleh ahli dorong (Anto dan Aku), kali ini medannya cukup berat karena nanjak terus, tapi destination udah di depan menunggu gak lama lagi. Apapun itu tidak ada kata kembali, Vini Vidi Vici (halahhh, gaya!) :D


Bunciiiissss.. dan jepretan kamera merekam momen kami berada di kebun teh gak jauh dari Gunung Mas. Terlihat hamparan luas kebun teh menurun hijau ke bawah sana. Udara sejuk yang luar biasa nikmat membuat penat gak terasa. Tiba-tiba sebuah jempul teracung kepada kami dari seorang pengendara motor yang melewati kami. Entah untuk apa dia mengacungkan jempol. Mungkin karena terheran dan takjub akan perjalanan kami, perjalanan yang tidak biasa bagi kebanyakan orang. Warung sate kelinci tapi jalan pun menjadi tempat istirahat kami dan juga karena tergoda pingin icip-icip seperti apa sih rasa sate kelinci itu, hehe.. Gak lupa foto-foto, teuteuuuuppp :D Soalnya warung sate kelinci nya di tepi jalan dan agak menjorok ke ngarai di samping jalan jadi view-nya bagus banget. Abis makan (lumayan sate kelincinya wenakkk), kenyang, leyeh-leyeh dulu nikmatin pemandangan yang bagus sambil jepret-jepret. Okeh, 'jalan-jalan' lanjut lagiiii :)

Lagi icip-icip Sate Kelinci di Puncak, mak nyusss..!
And finally, our journey ends. Eng ing eeeeengggg.. Masjid At-Ta'awun pun dihadapan kami. But, ada tantangan lagi untuk bisa masuk ke dalam masjid karena ada banyak anak tangga menuju ke atas karena masjidnya di atas -__-" Gak papa, satu-satunya jalan adalah bekerja sama, hehe.. Karena gak mau ngerepotin orang2 sekitar yang sedang terkesima dengan pemandangan gak biasa di depan mereka (2 orang normal dan 1 orang ber-wheelchair). Akhirnya bagi2 tugas, Anto yang angkat wheelchair-nya Big Boss dan aku yang bopong dia. Huppp, bak binaragawan kami pun beraksi menaiki anak tangga yang lumayan banyak untuk bisa sampai ke atas dan masuk ke mulut Masjid. Aaahhh, finally arrived di atas dan view-nya subhanallah bagus banget. Masjid ini jadi saksi perjalanan kami dan sesuai namanya yang berarti saling menolong (ta'awun) bahwa persahabatan itu ada karena Allah dan juga ada untuk saling tolong-menolong.


Destinasi sudah tercapai dan waktu zuhur masih sekitar 3 jam lagi so kami pun leyeh2 istirahat di dalam masjid yang sejuk karena hawa Puncak yang menyejukkan. Dinginnya air di kucuran keran tempat berwudhu meresap ke balik kulit-kulit wajah dan tangan kami. Tergoda dengan kesegaran Aku pun memutuskan untuk numpang mandi, hehe.. Lumayan karena dari tadi malam belum mandi dan sudah bawa perlengkapan mandi juga. Segeeerrrrr...! Alhamdulillah. Sambil mengunggu shalat zuhur, leyeh-leyeh dulu di dalam masjid. Aaahhh, mantap! Shalat zuhur sudah ditunaikan dan saatnya merencanakan perjalanan pulang. Tapi sepertinya tidak ada yang direncanakan karena perjalanan pulang akan sama dengan perjalanan kemari yakni 'jalan-jalan', hehe..
Kepanasan di At-Ta'awun padahal di Puncak :D
And the long way to home pun dimulai dari Masjid ini. Sebuah stasiun kenangan yang akan menjadi bahan tutur kami di kemudian hari kepada anak cucu kami. Bahwa persahabatan itu means tolong-menolong. Kami pun beranjak dan mulai menyusuri jalanan menurun dari Puncak. Tadinya sih berencana untuk naik angkot ke Pasar Cisarua tapi ternyata naik angkot pun percuma karena ekor kemacetan udah terlihat beberapa meter setelah kami meninggalkan Masjid. Yowis, keep moving then. C-mon! Kami pun terus jalan. Sepanjang jalan yang terlihat cuma deraten mobil di sebelah kanan dan deretan kios yang menjajakan ubi cilembu, pisang tanduk, alpukat, wortel, talas bogor, dll. Waktu pun makin sore dan kami mendaratkan telapak kaki kami yang sepertinya bertambah lebar di lantai Masjid berarsitektur modern, kalo gak salah namanya Masjid Al-Masih. Alhamdulillah, bisa leyeh-leyeh sebentar.


Usai leyeh-leyeh di Masjid kami pun melanjutkan perjalanan pulang dan masih mecet juga. Ternyata invasi Plat B betul-betul parah kalo weekend, hehe.. Gak papa, klo perginya bisa pulangnya juga harus bisa (bisa-bisa gempor, hahaha!!!) Eh ternyata sampai ditempat deket pelataran bus-bus AKAP tempat sarapan tadi pagi dan kemacetan pun kelihatannya udah mulai berangsur menghilang a.k.a arus lalu lintas udah lancar. Yowis, rencana naik angkot pun direalisasikan. Kami akhirnya naik angkot ke arah Ciawi. Sampai di Ciawi eh udah waktu untuk shalat ashar, oke cari masjid terdekat sekalian istirahat sebentar. Usai shalat kami jalan lagi dan kali ini naik angkot lagi menuju Terminal Baranang Siang untuk naik bus ke Terminal Tanjung Priok. Yap, bus sudah dapet dan ready to go. Saatnya tidoooorrrr :D


And finally sampai juga di Terminal Tanjung Priok dan waktu udah magrib so kami putuskan untuk shalat magrib berjama'ah di Masjid Al-Husna gak jauh dari Terminal. Selesai shalat, leyeh-leyeh sebentar sebelum lanjut lagi melanjutkan perjalanan ke rumah. Sebelum pulang ada rencana dadakan untuk makan karena perut udah laper. Akhirnya Bro Apit rekomendasi makan Sate Padang yang terkenal di Pasar Permai deket Paul (Pasar Uler). Okeh! kita kemon, dan 'jalan-jalan' kami pun ditutup dengan seporsi Sate Padang yang maknyusss. Alhamdulillah, makan udah beres eh azan isya' berkumandan so lanjut shalat berjama'ah dan kebetulan deket tempat makan ada mushola. Sip, makan beres dan shalat sudah tertunaikan dan berjama'ah so selanjutnyaaa Home Sweet Home. Romah Masbro Anto jadi tempat tujuan akhir untuk melepas penat yang sudah menggunung. Kami pun naik angkot menuju Semper dan memutuskan untuk menginap di rumah Masbro Anto.

Sate Padang di Koja Permai, mantab jayaaa!
Alhamdulillah, home sweet home. Saatnya beristirahat. Perjalanan yang luar biasa (luar biasa cuapekkk, hahaha..!), perjalanan yang melelahkan tapi bermakna dan akan menjadi sebuah Stasiun Kenangan. Alright fellas this is it, a story from me. I am signing out :)

Saturday, September 10, 2011

Stasiun Kenangan: At-Ta'awun (story about 3 Sahabat 'Idiot') - Part II

Lanjut! Kemarin kan ane ceritanye ampe pas neduh di teras KFC terus mutusin makan di dalemnya. Abis, kami kira hujan bakalan lama banget, secara di Bogor gitu.. julukannya "Kota Hujan". Mana perut udah kruyukkan lagi, tanpa pikir panjang lagi yasudah, makaaaaannn...! Sip, makan udah, lanjut jalan lagi. Sebenernya sih, kalau dipikir-pikir sih gak masuk akal orang kayak kami bisa jalan-jalan sampai Bogor hanya dengan putus-nyambung naik angkot. Tapi, ternyata terbukti masuk akal juga tuh.. Hahaha...! Yaudah, kita lanjut. Nanya dulu sama abang-abang tukang gorengan, tapi beli gorengannya dulu biar ada basa-basinya, hahaha...! "Bang, kalo ke Puncak ada gak ya angkot dari sini?", tanya ane. "Oh, gak ada.. kalo mau ke Ciawi dulu dari sini terus dari Ciawi nyambung lagi angkot  ke Cisarua, nah dari Cisarua baru ada angkot yang ke Puncak", jawab abang tukang gorengan. "Nih bang 5000, makasih..". Abis nanya, kita putuskan untuk naik angkot warna hijau no 01A ke Ciawi. Bagi-bagi tugas lagi, giliran ane ngangkat masbro Apit ke 'kokpit' depan, terus masbro Anto ngelipet kursi roda terus masukin ke angkot. Yakkk, dah beres. Jalannn..! Udah nyampe di Ciawi aja, lanjut lagi tapi gak naik angkot.. kami putusin untuk jalan sambil nyari masjid terdekat.. Kami pun jalan.. jalan.. jalan.. gak tahu udah berapa jauh kita jalan belum ketemu masjid juga. Akhirnya ane putuskan untuk bertanya ke mas-mas yang jaga counter voucher pulsa. Kami terus jalan sampai ketemu masjid yang ditunjukin tadi. Fyuhhh, ternyata gak terasa.. jauh juga ya kami udah berjalan dari Ciawi. Kami singgah dulu di Masjid Al-Jihad untuk sholat maghrib dan istirahat. Selesai sholat maghrib rencana sih mau jalan lagi, tapi.. pas lihat ke jalan, ternyata masih macet gara-gara sistem buka-tutup yang udah dimulai sejak jam 3 pm dan akan berakhir jam 7 pm. Yasudah, akhirnya kami putuskan untuk tidur-tiduran di masjid sampai waktu 'isya. Alhamdulillah, lumayan bisa istirahat rada lamaan.. :)
Lagi di Ciawi nih, keren kan ada efek hantunya, hehe..
Okay, sholat 'isya dah ditunaikan. Saatnya ngecek apa jalanan dah gak macet banget dan ternyata bener, udah berakhir macetnya. Tapi.., karena males naik angkot dan kayaknya enak 'jalan-jalan' yaudah kami jalan deh sambil nyari tempat makan yang enak karena perut dah mulai teriak-teriak minta dijejelin something. Jalan.. jalan.., sambil sesekali pose foto dipinggir jalan dengan fitur 'night shot' yang ada di kamera Ane, dan.. wow.. hasilnya keren abis (itu tuh yang ada di propic fesbuk Ane, kerennn kaaannn, hehe..). Akhirnya nemu juga tepat makan, tapi unfortunately bukan abang tukang bakso ato somay ato nasi goreng yang biasa kita jumpai di Jakarta, yang ada cuman restoran, ada restoran tongseng dan sate kambing, ada bubur Cianjur. Yausah karena kami pengen makan berat jadi keputusan dah bulat untuk masuk ke restoran tongseng kambing. "Mau pesen apa mas?", tanya waiter. "Umm.." gumam ku. "Sini.. sini.., biar gw yang mesenin" sahut masbro Apit. "Mas pesen tongseng kambing satu sama sop kambing satu terus nasi putihnya tiga" sebut masbro Apit. Sambil nunggu pesenan dateng, kami selingi dengan aktivitas ala bujang dan ngobrol. Yakkk, pesenan dah datang! Wuihhh, mantab ternyata tongseng kambingnya. "Iya, tongsengnya enak banget" celetuk masbro Anto. "Apa gw bilang, klo soal makanan jangan tanya, ane paham..!" timpal masbro Apit. "Tapi sop kambingnya biasa aja, ini mah mak gw juga bisa bikin" celetuk masbro Anto. "Iya sih, tapi oke kan pilihan gw.." timpal masbro Apit. "Yoi coy! tongsengnya enak banget, klo sopnya mah biasa.." giliran aku yg nyeletuk, hehe.. Hening pun tercipta seiring kami menikmati santap malam di resto pinggir jalan menuju Megamendung.

Alhamdulillah, perut kenyang. "Bentar dulu yak klo mau jalan lagi.. kenyang banget nih" pinta masbro Apit. "Yaudah, mumpung ada toilet gratisss, gw buang air dulu ya, hehe.." timpal masbro Anto. Akhirnya, kami rehat beberapa lama sampai masbro Anto selesai dengan 'aktivitas pribadinya' (hahaha..., gaya beut bahasanya :D). Okay, kami pun melanjutkan perjalanan dari kaki derah Megamendung. Karena males naik angkot akhirnya kami pun jalan lagi, kali ini tanpa tujuan untuk mencari masjid terdekat. Pokoknya jalan terus sampai kaki ini tak sanggup lagi menopang tubuh-tubuh kami yang tertipu oleh khasiat dari mijon yang kami beli sore tadi. Katanya sih klo minum itu bisa jadi wanhandrid persen semangatnya. Emang sih jadi wanhandrid, tapi di perasaan, klo tubuh mah gak bisa diboongin. Jalan terus.. terus jalan.. sambil ngambil foto dengan fitur 'night shot' yg keren abisss karena bisa bikin efek jalur cahaya dari lampu-lampu mobil yang lalu lalang dibelakang kami (gak percaya, liat aja di fesbuk ane, yang judul albumnya Tri Masgetir 'Jalan-Jalan', hehe..). Untung aja gak susah nyari minimarket di sepanjang jalan yang kami lalui untuk beli perbekalan air dan mijon untuk ganti cairan dan menipu tubuh kami, hahaha...! Kalo laper lagi, kami minggir dulu untuk nyari tempat duduk. Tadi sebelumnya di depan resto tongseng kami beli dulu perbekalan snack untuk di Puncak besoknya. Sengaja, aku inisiatif untuk beli roti tawar dua bungkus sama susu kental manis coklat sachet untuk temen makanannya. Nah, akhirnya kami minggir nyari tempat duduk di depan sebuah minimarket yang juga banyak bertebaran di Jakarta. Nyam.. nyam.. roti tawar dengan balutan susu kental manis coklat, lumayan buat ngusir rasa lapar yang mendadak menggeriliya di belantara sillia-sillia lambung kami (hahaha, sok biologis).
Ngasoh bentar di depan Indomaret :)
Udah selesai nguyah dan nenggak, lanjut lagi jalannya.. dah lama banget gak jalan ala orang kramot sejak pada sibuk dengan urusan masing selepas kuliah (aku dan masbro Anto). Kami pun terus berajalan, merekam setiap detil jalanan menuju Cisarua yang bergelombang naik.. turun.. naik.. turun.. Sesekali kami beristirahat untuk bertukar posisi, kalau tadinya yang dorong masbro Anto, nah sekarang giliran aku yang dorong. Ada beberapa foto dengan mode 'night shot' yang keren yang kami ambil di pinggir jalan. Sebenarnya ada perasaan aneh berkecamuk di dalam dada ku perihal sorot mata orang-orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Sorot mereka begitu tajam menohok seakan berkata "ini orang-orang gak ada kerjaan apa, jalan bertiga malam-malam", hmmm.. ya sudahlah, biar saja.. toh mereka akan kami lewati jua. Malam makin larut, kaki-kaki kami seakan mulai meneriakkan hak-hak mereka yang sedari tertahan, hak untuk berdiam dan melepaskan peluh karena beban yang mereka tumpu sedari tadi. Gak terasa ternyata malam sudah akan mendekati dini hari, ternyata udara sejuk daerah Bogor sungguh melenakan kaki-kaki kami, penat yang seharusnya begitu terasa kalo kami berjalan di Jakarta ternyata teredam oleh semilir sejuk angin daerah ini. Akhirnya, sebuah masjid pinggir jalan menarik perhatian kami. Menyuguhkan sajian yang nikmat untuk kaki dan tubuh kami yang sudah lama menantikan sajian nikmat untuk beristirahat. Kami pun berhenti, memeriksa apakah pintunya terkunci atau tidak. Alhamdulillah, ternyata terbuka untuk menerima musafir-musafir kelelahan ini beristirahat di dalam dan ternyata di teras masjid ini (Masjid Nurul Huda) ada karpetnya loh, itu tu.. karpet persegi seperti yang ada di ruang tamu rumah ku, hehe.. Aku gantian ngangkat masbro Apit ke dalam masjid dan masbro Anto ngelipet kursi roda. Tak perlu pikir panjang, masing-masing dari kami pun terlelap memasuki gerbang mimpi masing-masing, menguapkan segala penat yang sudah menggunung sedari tadi. Alhamdulillah..!
Leyeh-leyeh di sebuah masjid daerah Bogor
good nite ma fren, kami istirahat dulu ye (insyaAllah sambung lagi besok dengan keanehan-keanehan ala 'Geng Kramot' ini, hehe..). salam lima jari, salam'alaikum :)

Wednesday, September 07, 2011

Stasiun Kenangan: At-Ta'awun (story about 3 Sahabat 'Idiot')

Siang hari itu, hari ke-4 pekan pertama bulan Syawal a.k.a 2011.9.4, kami mulai beranjak dari teras kediaman Apit (sok keren bahasanya, hehe..) yang teduh menuju jalanan Semper Barat yang kering terpanggang matahari kala itu. Udara begitu terik, kering udara kala itu menyengat kulit-kulit kami. Biarlah, panas terik ini menyengat, tekad sudah membaja sebab rencana sudah terpapar nyata di depan mata bahwa hari ini sebuah perjalanan yang tak biasa harus dimulai. Berjalan kami, bertiga, kumpulan orang-orang yang tidak biasa. Tidak biasa untuk tidak berjalan jauh dengan definisi 'jalan-jalan' yang sebenarnya. Berawal dari perbincangan tahun lalu kalau kami harus menorehkan sebuah memori tak biasa di benak kami, sebuah memori yang ingin kami isi dengan indahnya panorama Bogor yang eksotik kata orang. Barjalanlah kami (aku, anto, dan apit), meskipun definisi berjalan ini hanya tepat untuk disematkan kepada aku dan anto, tapi apalah arti definisi itu, toh persahabatan tak mengenal definisi. Persahabatan ada bukan karena definisi, tapi karena ada yang mendefinisikan. Dialah (Allah) yang telah mendefinisikan persahabatan kami bertiga.  Mungkin orang mengira kami adalah tiga bersaudara, biarlah anggapan mereka itu. Toh, memang kita bersaudara dalam agama yang lurus ini (Islam). Yak, persahabatan yang tak biasa. Kalau kata orang bule 'extraordinary friendship', hahaha..!
The Kramots
Kami awali perjalanan dengan angkot kumuh bernomor 07 trayek Semper-Pasar Senen. Gak tahu kenapa kalau angkot-angkot di Jakarta itu kumuh-kumuh (khususnya angkot bus tanggung), kesannya gimana gitu. Mungkin karena pemiliknya yang pemalas, maunya dapet duitnya aja, ngerawatnya mah kagak. Udah gitu kondekturnya dekil-dekil abisss, pan nyiksa penumpang dengan aromanya yang tak biasa (kagak mandi seminggu kayaknya). Huhhh.., gimana bangsa ini mau berubah citranya kalau individu-individunya gak punya sikap asertif soal diri dan lingkungannya. Sudahlah, gak ada gunanya juga ngoceh di dieu.. Gak ada yang dengar, lagian Pak Sopir angkot itu juga gak baca ini blog, hahaha.. Mendingan mulai dari diri sendiri aja dah bersikap asertifnya, Ok coy! Tapi gak semua angkot sih, ada juga kok yang rada bersih dikit. Mungkin karena sopir dan kondekturnya ngarti soal kebersihan kali yak. Lanjut ke cerita yang tadi.  Biasaaa, saatnya pembagian tugas. Aku kebagian ngangkat masbro Apit ke dalem angkot, nah giliran masbro Anto yang ngelipet and ngangkat itu kursi roda ke dalam angkot. Perlu diketahui sodara-sodara bahwasanya ada efek samping dari aktifitas sering ngangkat-ngangkat ini yaituuuu kami gak perlu datang ke Pusat Kebugaran a.k.a Fitness Center untuk bisa punya tangan yang kuat, hahaha..! Bis pun melaju dengan kecepatan tanggung karena masih di jalanan kecil. Sesekali kami saling ledek, cuci-mata karena gak bisa nolak keindahan fana yang tersuguh begitu saja di depan mata kami, hahaha..! Habis kudu gimana, tutup muka pake lima jari kan aneh jadinya. Jadi yaa, alhamdulillah (sekali aja karena bagian dari nikmat melihat keindahan ciptaan Allah, hehe..) habis itu buang mate ke tempat lain kalau diterusin bisa gaswat masbro, hahaha...!


Yak, sampailah kami di jalan yang gak jauh dari Pasar Senen. Kami gak tau kalau kami akan turun disini dan melanjutkan perjalanan kembali, bukannya dari Pasar Senen. Ternyata, masbro Anta udah punya rencana untuk turun di jalan ini, ternyata.. ini adalah jalan terdekat menuju Masjid Istiqlal (tempat kami singgah sementara) sebelum kami naik kereta ke Bogor dari Stasiun Juanda, hahaha.. Okay, jom kita jalan. Baru beberapa jauh, mulai dah kelakuan banci fotonya keluar, hehehe.. (lagian 'jalan-jalan' tanpa foto-foto teh nteu seru). Kami beberapa kali mengambil foto, berpose sok ganteng,  di depan Monumen Lapangan Banteng yang gak jauh letaknya dari Masjid Istiqlal. Puas udah foto-foto, kami lanjutkan perjalanan ke Masjid Istiqlal untuk sholat zuhur disana dan rehat sejenak karena terik yang membakar di luar. Alhamdulillah, adem. Sholat zuhur sudah ditunaikan, saatnya kita pergi ke Bogor. Jom kita kemon ke Stasiun Juanda. Okay, tiket dah dibeli. Ada kejadian aneh sebelumnya, masak tukang jaga loketnya mau ngerjain ane. Ane kan beli tiket commuter line untuk tiga orang, per tiketnya 7000. Nah, ane keluarin uang goban (50000), eh malah dikembaliin 13000, pan aneh buanget itu. Untung sebelumnya masbro Anto dah kasih peringatan supaya periksa kembaliannya di depan lubang loket soalnya penjaganya ada yang iseng mau cepet kaya dengan cara ngembaliin gak sesuai haknya, huhhh. Ane itung dah baik-baik kembaliannya, karena kurang yaudah ane bilang aje ke orangnya, "Mas, uang saya 50000, kurang nih kembaliannya", dengan muka cuek nahan malu dia akhirnya ngembaliin 29000 (kembalian yang seharusnya). Ckckckck.. jadi apa itu anak biniknya, dikasih makan pakai uang haram. Jakarta oh Jakarta.. ada-ada aja ye..!

Okay! Tapi ada tantangan lagi nih, Stasiun Juanda itu gak kayak stasiun kebanyakan, karena di tengah kota maka keretanya ada di atas. Jadi, kudu naik ke atas. Eng..ing..eng.., karena tadi ane dah ngangkat masbro Apit naik angkot di awal, so kita tukeran tugas. Aku ngelipet dan ngangkat kursi rodanya, masbro Anto ngangkat masbro Apit. Tapi, Alhamdulillah, ada eskalatornya.. jadi gak cape-cape banget bawa ke atasnya. Iyakkk, sampai juga di atas, fyuhhh...! Sekarang nunggu commuter line-nya dateng. Nah, tu dia keretanya dateng. Kami bertiga pun masuk ke dalam commuter line. Perjalanan pun diisi dengan bercandaan ringan ala bujang sambil mengamati stasiun-stasiun yang terus bergantian menuju Bogor. Kelakuan banci foto pun nongol lagi, biasa.. Poto-poto, hahaha..! Gak terasa, ternyata cepet juga perjalanannya. Eh, dah sampai aja di Stasiun Bogor. Kalo dihitung-hitung sih cuma makan waktu sejam dari Juanda ke Bogor, Alhamdulillah, gak kesorean jadinya :)
Om, santai dong.. Gak sadar kamera yah, hahaha..! (at Commuter to Bogor)
Kami pun turun dari kereta. Sorot mata tak biasa menatap kami, entah apa yang ingin mereka ungkapkan. Entah rasa iba atau tafsir aneh tentang kami. Tapi, kami sudah terbiasa dengan hal itu. Toh, dengan tidak terlalu memperdulikan kami jadi lebih santai, gak pusing-pusing menafsirkan sorot mata mereka-mereka. Kami sih positive thinking aja, mungkin mereka takjub, kok ada ya orang mau bersusah-sudah gotong-gotong kursi roda beserta muatannya (orang tentunya, bukan karung beras, hahaha), kan bisa naik taksi ato pesawat terbang. Cuma satu alasannya, kami gak punya duit segitu banyak, hahaha...! Turun di Stasiun Bogor baru jam 2 pm. Tadinya sih punya rencana mau masuk Kabun Raya Bogor, tapi kerena udah keburu sore jadi yaa diurungkan deh niat masuk ke kebun rayanya, mungkin lain kali bisa. Sampai di Bogor, kami pun bingung mau kemana karena gak tahu daerah Bogor. So, kami pun teruskan berjalan tanpa karena emang kami 'jalan-jalan', hehehe.. Naik turun-naik turun, jalanan di kota bogor gak ada yang flat ya, bergelombang, hahaha..! Akhirnya kita ngelewatin IPB di Jl, Pajajaran, eh tiba-tiba turun hujan (unpredictable), dengan sigap ane ngembil payung dari tes kecil di depan perut ane dan membukanya untuk menaungi kami bertiga. Karena payung lipat dan kecil jadinya tergopoh-gopoh dah nyari tempat berteduh sementara (diketawain neng geulis karena aneh dua orang dan satu kursi roda plus orangnya bernaung dibawah satu peyung kecil sambil lari-lari kecil, hehe..). Akhirnya kami berteduh di teras KFC gak jauh dari Terminal Baranang Siang, kami pun putuskan untuk makan karena perut dah keroncongan, hehe.. (gila-gila.. backpacker apaan 'jalan-jalan' makanya di KFC, hahaha...!)
Mas-mas laper yah, biasa aja dong makannya.. hehe.. (at KFC Padjajaran Bogor)
to be continued.. (besok lg dilanjutin, insya Allah)