Wednesday, September 07, 2011

Stasiun Kenangan: At-Ta'awun (story about 3 Sahabat 'Idiot')

Siang hari itu, hari ke-4 pekan pertama bulan Syawal a.k.a 2011.9.4, kami mulai beranjak dari teras kediaman Apit (sok keren bahasanya, hehe..) yang teduh menuju jalanan Semper Barat yang kering terpanggang matahari kala itu. Udara begitu terik, kering udara kala itu menyengat kulit-kulit kami. Biarlah, panas terik ini menyengat, tekad sudah membaja sebab rencana sudah terpapar nyata di depan mata bahwa hari ini sebuah perjalanan yang tak biasa harus dimulai. Berjalan kami, bertiga, kumpulan orang-orang yang tidak biasa. Tidak biasa untuk tidak berjalan jauh dengan definisi 'jalan-jalan' yang sebenarnya. Berawal dari perbincangan tahun lalu kalau kami harus menorehkan sebuah memori tak biasa di benak kami, sebuah memori yang ingin kami isi dengan indahnya panorama Bogor yang eksotik kata orang. Barjalanlah kami (aku, anto, dan apit), meskipun definisi berjalan ini hanya tepat untuk disematkan kepada aku dan anto, tapi apalah arti definisi itu, toh persahabatan tak mengenal definisi. Persahabatan ada bukan karena definisi, tapi karena ada yang mendefinisikan. Dialah (Allah) yang telah mendefinisikan persahabatan kami bertiga.  Mungkin orang mengira kami adalah tiga bersaudara, biarlah anggapan mereka itu. Toh, memang kita bersaudara dalam agama yang lurus ini (Islam). Yak, persahabatan yang tak biasa. Kalau kata orang bule 'extraordinary friendship', hahaha..!
The Kramots
Kami awali perjalanan dengan angkot kumuh bernomor 07 trayek Semper-Pasar Senen. Gak tahu kenapa kalau angkot-angkot di Jakarta itu kumuh-kumuh (khususnya angkot bus tanggung), kesannya gimana gitu. Mungkin karena pemiliknya yang pemalas, maunya dapet duitnya aja, ngerawatnya mah kagak. Udah gitu kondekturnya dekil-dekil abisss, pan nyiksa penumpang dengan aromanya yang tak biasa (kagak mandi seminggu kayaknya). Huhhh.., gimana bangsa ini mau berubah citranya kalau individu-individunya gak punya sikap asertif soal diri dan lingkungannya. Sudahlah, gak ada gunanya juga ngoceh di dieu.. Gak ada yang dengar, lagian Pak Sopir angkot itu juga gak baca ini blog, hahaha.. Mendingan mulai dari diri sendiri aja dah bersikap asertifnya, Ok coy! Tapi gak semua angkot sih, ada juga kok yang rada bersih dikit. Mungkin karena sopir dan kondekturnya ngarti soal kebersihan kali yak. Lanjut ke cerita yang tadi.  Biasaaa, saatnya pembagian tugas. Aku kebagian ngangkat masbro Apit ke dalem angkot, nah giliran masbro Anto yang ngelipet and ngangkat itu kursi roda ke dalam angkot. Perlu diketahui sodara-sodara bahwasanya ada efek samping dari aktifitas sering ngangkat-ngangkat ini yaituuuu kami gak perlu datang ke Pusat Kebugaran a.k.a Fitness Center untuk bisa punya tangan yang kuat, hahaha..! Bis pun melaju dengan kecepatan tanggung karena masih di jalanan kecil. Sesekali kami saling ledek, cuci-mata karena gak bisa nolak keindahan fana yang tersuguh begitu saja di depan mata kami, hahaha..! Habis kudu gimana, tutup muka pake lima jari kan aneh jadinya. Jadi yaa, alhamdulillah (sekali aja karena bagian dari nikmat melihat keindahan ciptaan Allah, hehe..) habis itu buang mate ke tempat lain kalau diterusin bisa gaswat masbro, hahaha...!


Yak, sampailah kami di jalan yang gak jauh dari Pasar Senen. Kami gak tau kalau kami akan turun disini dan melanjutkan perjalanan kembali, bukannya dari Pasar Senen. Ternyata, masbro Anta udah punya rencana untuk turun di jalan ini, ternyata.. ini adalah jalan terdekat menuju Masjid Istiqlal (tempat kami singgah sementara) sebelum kami naik kereta ke Bogor dari Stasiun Juanda, hahaha.. Okay, jom kita jalan. Baru beberapa jauh, mulai dah kelakuan banci fotonya keluar, hehehe.. (lagian 'jalan-jalan' tanpa foto-foto teh nteu seru). Kami beberapa kali mengambil foto, berpose sok ganteng,  di depan Monumen Lapangan Banteng yang gak jauh letaknya dari Masjid Istiqlal. Puas udah foto-foto, kami lanjutkan perjalanan ke Masjid Istiqlal untuk sholat zuhur disana dan rehat sejenak karena terik yang membakar di luar. Alhamdulillah, adem. Sholat zuhur sudah ditunaikan, saatnya kita pergi ke Bogor. Jom kita kemon ke Stasiun Juanda. Okay, tiket dah dibeli. Ada kejadian aneh sebelumnya, masak tukang jaga loketnya mau ngerjain ane. Ane kan beli tiket commuter line untuk tiga orang, per tiketnya 7000. Nah, ane keluarin uang goban (50000), eh malah dikembaliin 13000, pan aneh buanget itu. Untung sebelumnya masbro Anto dah kasih peringatan supaya periksa kembaliannya di depan lubang loket soalnya penjaganya ada yang iseng mau cepet kaya dengan cara ngembaliin gak sesuai haknya, huhhh. Ane itung dah baik-baik kembaliannya, karena kurang yaudah ane bilang aje ke orangnya, "Mas, uang saya 50000, kurang nih kembaliannya", dengan muka cuek nahan malu dia akhirnya ngembaliin 29000 (kembalian yang seharusnya). Ckckckck.. jadi apa itu anak biniknya, dikasih makan pakai uang haram. Jakarta oh Jakarta.. ada-ada aja ye..!

Okay! Tapi ada tantangan lagi nih, Stasiun Juanda itu gak kayak stasiun kebanyakan, karena di tengah kota maka keretanya ada di atas. Jadi, kudu naik ke atas. Eng..ing..eng.., karena tadi ane dah ngangkat masbro Apit naik angkot di awal, so kita tukeran tugas. Aku ngelipet dan ngangkat kursi rodanya, masbro Anto ngangkat masbro Apit. Tapi, Alhamdulillah, ada eskalatornya.. jadi gak cape-cape banget bawa ke atasnya. Iyakkk, sampai juga di atas, fyuhhh...! Sekarang nunggu commuter line-nya dateng. Nah, tu dia keretanya dateng. Kami bertiga pun masuk ke dalam commuter line. Perjalanan pun diisi dengan bercandaan ringan ala bujang sambil mengamati stasiun-stasiun yang terus bergantian menuju Bogor. Kelakuan banci foto pun nongol lagi, biasa.. Poto-poto, hahaha..! Gak terasa, ternyata cepet juga perjalanannya. Eh, dah sampai aja di Stasiun Bogor. Kalo dihitung-hitung sih cuma makan waktu sejam dari Juanda ke Bogor, Alhamdulillah, gak kesorean jadinya :)
Om, santai dong.. Gak sadar kamera yah, hahaha..! (at Commuter to Bogor)
Kami pun turun dari kereta. Sorot mata tak biasa menatap kami, entah apa yang ingin mereka ungkapkan. Entah rasa iba atau tafsir aneh tentang kami. Tapi, kami sudah terbiasa dengan hal itu. Toh, dengan tidak terlalu memperdulikan kami jadi lebih santai, gak pusing-pusing menafsirkan sorot mata mereka-mereka. Kami sih positive thinking aja, mungkin mereka takjub, kok ada ya orang mau bersusah-sudah gotong-gotong kursi roda beserta muatannya (orang tentunya, bukan karung beras, hahaha), kan bisa naik taksi ato pesawat terbang. Cuma satu alasannya, kami gak punya duit segitu banyak, hahaha...! Turun di Stasiun Bogor baru jam 2 pm. Tadinya sih punya rencana mau masuk Kabun Raya Bogor, tapi kerena udah keburu sore jadi yaa diurungkan deh niat masuk ke kebun rayanya, mungkin lain kali bisa. Sampai di Bogor, kami pun bingung mau kemana karena gak tahu daerah Bogor. So, kami pun teruskan berjalan tanpa karena emang kami 'jalan-jalan', hehehe.. Naik turun-naik turun, jalanan di kota bogor gak ada yang flat ya, bergelombang, hahaha..! Akhirnya kita ngelewatin IPB di Jl, Pajajaran, eh tiba-tiba turun hujan (unpredictable), dengan sigap ane ngembil payung dari tes kecil di depan perut ane dan membukanya untuk menaungi kami bertiga. Karena payung lipat dan kecil jadinya tergopoh-gopoh dah nyari tempat berteduh sementara (diketawain neng geulis karena aneh dua orang dan satu kursi roda plus orangnya bernaung dibawah satu peyung kecil sambil lari-lari kecil, hehe..). Akhirnya kami berteduh di teras KFC gak jauh dari Terminal Baranang Siang, kami pun putuskan untuk makan karena perut dah keroncongan, hehe.. (gila-gila.. backpacker apaan 'jalan-jalan' makanya di KFC, hahaha...!)
Mas-mas laper yah, biasa aja dong makannya.. hehe.. (at KFC Padjajaran Bogor)
to be continued.. (besok lg dilanjutin, insya Allah)

2 comments:

Anonymous said...

Aslmkm.. Odii.. ini km sm M. Muhafidinsyah yach? yg anak 52 juga?

btw..follow blog aq juga yaa..
Nofriyanarachmat.blogspot.com

xixiiix.. baru bljr blogging nich..
salam 5 jari juga..wasallmkm...

Unknown said...

Iya buu.. kita bertiga sama teman satu lagi. Best Friends Go To Puncak :D